

"Sumatra Menangis. Bisakah Kau Mendengarnya?"

Kabar duka di Sumatera, tentu bukan lagi tentang berita. Ini tentang saudara kita. Dalam diam yang pecah oleh gemuruh tanah dan raungan air, ribuan cerita di Sumatra terputus. Sampai hari ini, 807 jiwa terkonfirmasi meninggal dunia, dan sebanyak 582.500 orang mengungsi, mencari pengamanan diri dan keluarga, berharap di tempat pengungsian ini mereka dapat berbagi cerita kesedihan dan kehilangan akibat dari bencana duka ini

Ada yang tidak bisa diukur dengan data.
Sebelum koordinat GPS menjadi lokasi pengungsian,tempat ini adalah rumah. Sebelum menjadi "korban jiwa," mereka adalah masyarakat yang memiliki aktivitas yang kurang lebih sama seperti kita.
Kini, mata mereka memandang pada sisa-sisa yang tersisa. Rasa takut yang paling besar bukan lagi pada air yang naik, tapi pada ketidakpastian besok. "Apa yang bisa saya makan besok?" "Bagaimana anak saya bisa ujian?" "Apakah saya harus memulai dari nol, lagi?"
Luka yang Tidak Terlihat Lebih Dalam dari Lumpur.
Bencana akan surut,media akan beralih berita. Namun, trauma pada anak-anak yang mendengar hujan dan mulai menjerit, kecemasan kolektif yang menggantung di udara, dan kepasrahan yang mulai menggerogoti semangat, itulah musuh jangka panjang yang akan mereka hadapi.
Kami ada di sana, bukan hanya menyalurkan sekarung beras dan beberapa bingkisan lainnya. Kami memeluk anak yang ketakutan, mendengarkan cerita keluarga yang kehilangan, dan berjanji untuk tidak melupakan mereka ketika sorotan kamera pergi. Tapi tangan kami terlalu sedikit.
Mereka bukan meminta belas kasihan. Mereka membutuhkan bukti bahwa mereka tidak sendirian.

Sumatra sedang terpuruk.Tapi di setiap tetes air mata, ada keteguhan yang pantas kita dukung. Di setiap genggaman tangan yang kita ulurkan, ada pesan: "Kami lihat kamu. Kami dengar kamu. Dan kami akan membangun kembali, bersama-sama."
Setiap Rupiah akan kami pertanggungjawabkan dengan nyawa dan nama baik. Karena kepercayaan Anda adalah modal sosial terakhir yang tidak boleh kami khianati.